Senin, 01 Oktober 2012

CERPEN "DIA DATANG KEMBALI"


 Detak jam dinding terus berbunyi warnanya yang hitam membuat cicak nyaman bersembunyi dibalik jam tersebut. sekarang yang menunjukan pukul 18.00 malam, aku terhanyut dengan lamunan yang tak terarah diatas kursi empuk di teras rumah. Hari ini adalah hari Sabtu. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan malam ini. Malam terasa sunyi tak ada yang menyapaku, kalau biasa setiap malam minggu halamanku dipenuhi canda tawa oleh anak-anak tetangga,dan kadang memanggil namaku, namun malam ini terasa kelam. Seolah semua membisu padaku tak ada yang mau mengetahui apa sebenarnya yang terjadi padaku, semuanya membungkam. Inikah yang harus ku alami Tuhan. Wajah itu masih terbayang jelas dalam ingatanku. Serasa tak mungkin hal ini terjadi. Ternyata Allah memiliki rencana lain dibalik kejadin ini. Kusandarkan tubuhku ke kursi memandang langit dengan bulan yang selalu terlihat cerah dan ceriah ditemani bintang-bintang yang selalu setia. Aku tak menyangka bisa terpisa dengannya, seorang yang kucintai dari lubuk hati yang paling dalam.
walau aku sudah tahu  pacaran dalam islam itu dilarang, kadang masih saja tanpa sadar aku terbayang oleh wajahnya. Aku terhanyut dalam lamunan saat awal aku jadian dengannya. Suasana malam ini berhasil menyeretku kembali ke masa lalu. Disat aku petrtama kali mengenal pacaran.
****
Kesejukan embun pagi menemaniku disebuah taman kecil di sekolah. Belum ada siswa yang datang, hanya ada suara-suara burung yang menemaniku. sengaja aku mempercepat kehadiran karena ada tugas yang harus kutulis bersama Farhan. Aku janjian pukul 06.30 disekolah. Sambil menunggu Farhan aku memainkan harmonika  yang sempat ku bawa dari rumah. Sambil memjamkan mata aku menikmati lantunan suara harmonica ini.
Tanpa kusadari dari kejauhan Farhan memandangiku memainkan harmonica, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Farhan adalah sahabat karibku sejak di bangku SMP, dan sama-sama masuk di SMA favorit di desa. Setelah bebrapa lama Farhan memandangiku, ia berjalan menemuiku dan menyapaku serta meledekku.
“Jannah ,,,,,”teriak Farhan dari kejauhan.
“wah,,,wah,,, dibalik sifat pendiammu, ternyata kamu juga bisa main alat musik ini yah,”  ia tertawa sambil tertawa menuju ke arahku.
“Masya Allah”. Pemuda itu memuji kepiawaianku dalam memainkan alat musik ini. Dia terus melontarkan kalimat-kalimat pujian untukku, sesekali ia memintaku untuk mengulang tiupan harmonika yang kupegang, namun aku malu. Dan berpura-pura tidak mau, sampai pada ia memohon sekali dan akhirnya aku luluh juga kemudian memainkan alat musik itu. Detik terus melaju kencang seolah meninggalkanku dan Farhan di taman. Tiba-tiba aku tersadar dan menanyakan tugas yang ku smskan semalam.
“Astaghfirullah,,, jam berapa ini Farhan? Kamu bawa kan tugas yang aku minta semalam. Karena mau diselesaikan dan di kumpul jam 08.00 nanti”celetukku.
 “oh tentu dong, Farhan kan selalu ingat apapun yang di pinta oleh tuan putri Jannah, hehehe”, rayuan Farhan mulai keluar.
“ah, Tuan putri, ada-ada saja kamu Han, cepat berikan padaku tugasnya”.
“hmmm,, tunggu dulu. Sebelum aku berikan ini, ada satu hal yang aku pinta darimu. Gimana?” lagi-lagi Farhan membuatku kesal. Akupun menayakan hal apakah yang ia inginkan dariku. Kemudian Farhan mengatakan sesuatu hal padaku. Saat itu dia tidak ada sedikitpun rasa malu dalam mengatakannya padaku.
            Saat itu aku kaget dengan kalimat yang diungkapkan padaku. Farhan mengatakan bahwa ia mencintaiku sejak kelas 1. Sontak aku bertanya pandaya,
“ apa yang kau katakana Han, apa yang membuat kamu bisa mencintaiku dengan sifatku yang begini”
“Jannah, jujur aku dengan mantap mengatakan ini padamu, kita sudah bersahabat 5 tahun dan itu membuatku kagum padamu, pada hari ini tanpa keraguan aku mengungkapkan padamu, pohon-pohon akan menjadi saksi cinta suci kita berdua, sejak lama, perasaan ini ingin ku ungkapkan padamu. Namun,  suasananya tak pernah mendukung. Makanya, di moment ini aku tak mau kehilangan kesempatan lagi, gimana Jan, mau kah kamu menerima aku jadi pacarmu? Aku sungguh tulus mencintaimu”, ungkap Farhan.
Sebagai wanita hatiku pun terluluhkan dengan kalimat-kalimat yang dirangkai oleh Farhan. Akhirnya aku dan Farhan berpacaran, hari-hari kami lalui dengan kasih sayang, dengan batasan-batasan tentunya.
            Singkat cerita aku dan Farhan akhirnya lulus SMA, Farhan dengan Nilai terbaik disekolah. Dia memiliki cita-cita untuk melanjutkan kuliah di Universitas Islam Negeri. Dia  tergolong orang yang mampu untuk lanjut kuliah, sementara aku harus menganggur 1 tahun. aku berpisah dengan Farhan untuk sementara. Waktu terus berguling sampai pada bulan ke 4 dari perpisahan itu Farhan pun pulang ke desa dan menyempatkan diri untuk singgah di gubukku., malam itu adalah malam minggu Farhan kerumah untuk menemuiku akan tetapi aku sedang mencuci piring di dapur, jadi ibu kusuruh menemuinya. Dan farhan pun mengucapkan salam
“tok…tok…tok… Assalamu’alaikum,,,”
“Wa’alaikumsalam,,, eh nak Farhan,, sini masuk. Tumben kesini, apa kabar nak?  Lama tak ada kabar”.
“Alhamdulillah selalu baik bu,, iya nih bu, di kampus sibuk bener, sampai nggak pernah bisa pulang ke desa. Ini kebetulan libur semester jadi menyempatkan pulang seminggu ke rumah”
“owh,, gitu”
Sambil tersenyum “ hmmm, Jannah ada bu?”
“iya ada, ayo,, duduk dulu nak, Jannah masih nyuci piring tuh. Tunggu yah ibu panggilin”.
Sambil berjalan kedapur ibu selalu tersenyum sambil melihat Farhan. Ibu menyuruhku menemui farhan sambil membawa segelas the untuk nya. Kubuka tirai pintu sambil tertunduk malu dengan segelas the. Saat itu aku sunggu tersipu malu, karena sekian lama tak bertemu sang pujaan hati, akhirnya dimalam yang indah ini aku di pertemukan dengannya (Terimakasi ya Allah) dalam hatiku.
“subhanallah Jannah,,,”
Aku hanya tersenyum saja.
“lama sekali rasanya aku tak melihat wajahmu yang teduh itu, apa kabar kamu, dik?” Tanya Farhan dengan panggilan sayangnya padaku.
“aku Alhamdulillah selalu sehat-sehat dan selalu merindukanmu. Mas apa kabar?”
“iya, aku juga baik-baik dik, gimana setahun dirumah apa ada yang lamar?” lagi-lagi sifatnya yang membuat aku kesal muncul lagi.
“ah Mas Farhan ada-ada saja deh, akukan setia menunggumu hingga akhir” celetukku.
“setia hingga akhir.,,, wah,,, wah,, kayak slogannya kodam wirabuana yang ada di Makassar dong,, hehehe”, sambil tersenyum Farhan terus meledekku. Akupun tersenyum dengan candaan itu.
            “dik,, gimana apa kamu nggak minat tuk kuliah?”
“hmmm,,kalau ditanya minat atau nggak? tentu aku minat banget Mas, tapi kata ibu tunggu dulu deh, setahun lagi aja baru kuliah,biar uangnya ngumpul dulu” aku menjelaskan.
“owh gitu,, jadi sekarang dik Jannah masih Jualan pakaian di pasar ya?”
“iya, insya Allah uangnya akan cukup untuk di pake kuliah tahun depan. Doakan aja ya Mas.”
“sip.. Mas mu ini akan doakan yang terbaik untuk adikku tersayang”,sambil mengusap kepalaku. Dalam hatiku hmmm,, indahnya jika suatu saat nanti aku bisa berumah tangga dengan Farhan. Dia begitu baik dan ramah.
Waktu semaikin tak mendukung keberadaan Farhan., waktu telah menunjukan pukul 21.00, dengan kesadarannya sendiri Farhan pamit padaku. Dengan jabat tangan yang kemudian tangan Farhan kukecup layaknya seorang istri. Akhirnya farhan pulang aku melihatnya hingga bayangannya tertelan oleh embun malam.
Pohon-pohon dipinggiran sungai menjadi saksi cinta suciku pada Farhan, saat itu aku jalan-jalan bersamanya sehari sebelum keberangkatanya. Banyak cerita dan canda saat itu padi-padi bergoyang karena hempasan angin, akan ia tetapi tetap kokoh berdiri ditempatnya, seolah cemburu melihat kami berdua sedang bersenda-gurau,
Saat Farhan telah kembali ke Makassar, setelah saat itulah komunikasi telah  rengganng aku tak tau kenapa hal ini bisa terjadi.
Malam itu hpku berdering ku melihat kontak yang masuk  namanya Mas Farhan, tanpa ragu-ragu aku mengengkatnya,
“haloo,, Assalamu’alaikum”
“yah,, Wa’alaikumsalam”
“Mas Farhan, tumben nelpon, sejak waktu itu, kakak udah nggak pernah telpon jannah, ada apa kak?”
“hmmm, dik jannah begini” terhanti sejenak, Farhan menghela nafas panjang-panjang
“afwan” lanjutnya, kemudian terhenti  aku pun memotongnya,
“afwan,? Namaku bukan Afwan”,celetukku., Farhan menggunakan bahasa yang kian lama tidak ku mengerti. Entah apa maksudnya, namun lama-kelamaan aku dijelaskan maksud dan tujuannya nelpon. Iapun menjelaskan apa yang ia dapatkan di Makassar setelah kembali lagi kesana. Ternyata ia telah memperdalam ilmu agamanya, sehingga sampai pada materi menundukan pandangan Farhan jadi mengerti bahwa dalam islam itu tidak boleh pacaran,sehingga ia memutuskan hubungan ku dengannya,dan  begitu yang dijelaskan padaku. Kemudian Farhan juga memberi tahuku terbtang organisasi kampus yang ia ikuti saat itu dia pernah bilang LEMBAGA DAKWAH KAMPUS gitu  kalau nggak salah. Entah apalah itu. Aku nggak punya gambaran sama sekali tentang hal itu. Perbincangan panjang di hp membuatku tak kuasa menahan air mata. Perpisahan itu belum sepenuhnya bisa aku terima, berhari hari aku menangis dan mengingat masa-masa bersamanya, ibu tak kuat melihat isak tangisku. Aku tersiksa batin untuk beberapa hari.
*****
Aku tersentak dari lamunan panjang itu setelah ibu memanggilku makan malam. Kemudian aku istighfar. Aku tersadar dan aku menyesali telah melamun tentang Farhan si masa laluku. Aku tak ingin mengingatnya lagi. Setelah sekian lama aku ditinggalkan.
“jannah, cepat nak, sayur keburu dingin nih. Kamu ini bagaimana toh ndok-ndok. Dari tadi ibu memanggilmu kok kamu diam saja. Ada apa toh cah ayu?”, Tanya ibu padaku dengan logat jawanya..
“tidak ada apa-apa kok bu.”sambil mengambil piring.
mbo’ kalau ada masalah, ceritain sama ibu. Siapa tahu ibu punya solusinya.kalaupun tidak ada, setidaknya beban kamu bisa berkurang nak”. Lanjut ibu. Aku terus berusaha menyembunyikan kerisauanku pada ibu.
Waktunya telah tiba saat ini aku berfikir untuk mendaftar kuliah di salah satu universitas di Surabaya Yaitu ITS. Sebulan setelah diputuskan oleh farhan aku tak lagi pernah pacaran,beberapa bulan di kampus. Seseorang telah mengajakku kesuatu tempat kajian islam dihari jum’at kebetulan saat itu materinya adalah tentang Makna Syahadat. Aku terenyuh dalam majelis itu, aku meneteskan air mata saat itu. Menjalani hidup ini tanpa mengetahui mengenai hal terpenting seperti syahadat ini. Ternyata aku hidup penuh dengan kesalahan. Dalam hati menceletuk (ah,, tidak apa-apa. Soalnya sebelumnya aku belum mengetahui hal ini. Jadi setelah berhijrah ini barulah aku paham tentang semua hukum-hukum islam yang sesungguhnya.)
Setahun aku beraktivitas di kampus aku mendapatkan kabar bahwa Farhan adalah seorang aktivis dakwah di kampusnya. Saat ini benar-benar berjuang membela agama Allah. Mulai dari mendidik anak-anak dan membina sebuah kelompok pengajian kecil. Dalam hati aku sangat kagum dengannya, namun saat ini aku tak mau lagi mengungkit ataupun mengenang masa lalu. Itu adalah masa jahiliya yang kelam. Yang berlalu biarla menjadi sebuah pelajaran berharga. Saat ini aku dan dia sama-sama berusha menambah ilmu agama. Sekarang aku tak akan lagi pacaran. Biarlah Allah yang menentukan jodohku nanti.
Jalan setapak kecil menuju kampus aku bertemu salah seorang teman tarbiyahku lantas ia menyapaku
 “asslamu’alaikum, ukhty,,,”
“wa’alaikumsalam”, kami berdua sambil cipika-cipiki.dan dia berlalu begitu saja karena ada tugas yang harus ia selesaikan.
Singkat cerita, setelah 4 tahun aku kuliah akhirnya hari yang ditunggu pun tiba, aku sarjana di hari kamis, 27 maret. Aku merasa bahagia karena, sekian lama berjuang dengan tugas-tugas, akhirnya aku sarjana juga. Berselang 2 minggu, tiba-tiba aku mendapat paket dari ibu. Dia bilang lihat-lihat dulu, jangan dibilangi ke teman-teman yang lain. Kerena penasaran ku bertanya padanya,
“paket apaan ini Bu, dan dari siapa?”
“ini biodata nak,”
“biodata?”, aku kaget mengapa aku secepat itu menerima paket. Kemudian ibu menjelaskan secara detail tentang biodata ini. Aku penasaran siapa lelaki yang memberiku biodata ini.
Diheningnya malam yang membisu ditemani dengan suara-suara cicak, aku mencoba membuka paket itu. Tiba-tiba aku tersentak kaget setelah ku tahu siapa yang mengirimiku biodata. Aku sedikit tak percaya melihatnya. Namun ini memang benar-benar dia si Frahan masa laluku yang mengirimkan biodata ini. Sungguh aku sangat bahagia malam itu. Walau dulu aku putus namun, ia kembali untuk cinta suci. Terima kasih ya Allah.

akhirnya kehidupan Janna dan Farhan pun berjalan dengan penuh kasih sayang dan kesejukan iman. 
***

CERPEN "KUNCI AJAIB KEHIDUPAN"



Kemal adalah seorang mahasiswa soleh yang ada di kampus merah Universitas Hasanuddin Makassar. sudah 3 tahun ia menjalani perkuliahan dari beasiswa yang ia dapat, kini menjelang tahun ke-4 ia  menjadi bingung dan risau atas biaya kuliah selanjutnya. Mana lagi dalam waktu dekat akan di adakan kkn di kampusnya dan beberapa waktu lalu Kemal sudah daftar sebagai peserta KKN (kuliah kerja nyata). Kemal semakin bingung. Kerena biaya KKN itu tak sedikit. Ia mendengar dari bebearapa senior bahwa biaya keseluruhan dari KKN itu kurang lebih 1 juta. Dan uang pendaftarannya sebesar 650 ribu.
Dalam hati ia mengadu pada Allah,”ya Allah dari manakah aku akan mendapatkan uang sebanyak itu, untuk makan aja aku biasanya menahan, apalagi ini uang sebanyak itu, mana mungkin aku meminta pada ibu”.
Kemal terus berkutat dengan pikirannya mencari cara agar nanti uang kkn itu dapat di bayarnya.  Hp kemal bordering tanda sms masuk (aslm. Kawan2 ada yang tau nggak bocoran lokasi kkn kita nanti dimana?), itu bunyi sms salah seorang teman jurusanya. Kemal semakin gunda setelah membaca sms itu.
Kemal hampir putus asa dengan satu ujian ini, padahal hanya tersisa satu langkah lagi menuju ke podium untuk mendapat gelar sarjana.
Dia tak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi semua ini. Saat ini ibunya bekerja hanya sebagai buruh tani pengumpul padi yang terjatuh saat pemilik lahan menggilingnya. Ia berfikir mana mungkin dia mengadu pada orang tuanya, untuk makan saja ibu harus berjuang memeras keringat, tak pandang panas sengatan matahari di siang bolong. Begitupun dengan ayah Kemal , saat ini ayah kemal sedang menggarap  kebun yang luasnya ¼ Ha berharap agar hasil kebun dapat membantu sedikit untuk memnuhi kebutuhannya sehari-hari.
Mengingat hal itu Kemal semakin takut untuk memberi tahukan kepada kedua orang tuanya tentang biaya KKN itu.
Selain ia berfikir bagaimana cara memperoleh uang  tetapi juga Keluhan demi keluhan selalu terlontar dari mulutnya.
Hari itu Kemal memutuskan meenunda dalam mencari cara mendapatkan dana kkn itu, yang kemudian dia beranjak keluar rumah untuk mencari ketenangan di sebuah danau kecil  yang terletak dikampusnya untuk menghilangkan rasa penat yang sempat menghinggapi hatinya.
“Kemal…. Kemal….” Ada suara melengking dari kejauhan  dekat danau.
Kemal pun segera membalikan kepalanya dan mencari-cari sumber suara yang menyebut namanya itu. Mata Kemal tertuju pada satu orang yang ia curigai dialah yang memanggilnya.
“hei… apa kabar brow..??? lama kita tak bersua”sumber suara tadi melanjutkan bicaranya.
Kemal tak ingin, jika teman lamanya itu mengetahui masalah yang ia hadapi, dan ia pun bertingkah seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu. lantas Kemal menjawab dengan senyuman “ hai Syamil, subhanallah ternyata kita dipertemukan Allah di tempat ini wahai sohibku, kabarku Alhamdulillah selalu dalam perlindungan Allah, dan kamu sendiri gimana kabarnya, terus kok kamu bisa-bisanya ada disini?” (Kemal sambil menepuk punggung Syamil)
“Alhamdulillah, aku juga sehat. Wah panjang ceritanya jika aku mau ceritakan padamu sahabatku ”, sambil berjalan perlahan.
“kalau gitu mari kita cari tempat duduk, agar kamu bisa ceritakan apa sebenarnya yang terjadi sampai kamu bisa ada disini”, mata Kemal terus mencari-cari tempat yang nyaman untuk mereka tempati. Telihat tepat di depan danau sebuah tempat yang indah dengan ukurannya yang mungil dan suasana yang nyaman karena adanya pohon yang melindungi dari matahari yang siap menyengat siapapun yang terkena sinarnya.
“ itu ada tempat depan danau, mari kita kesana”, lanjut Kemal sambil menarik tangan Syamil tanda ingin segera mengetahui yang terjadi sebenarnya.
“wah,, sungguh indah danaunya telihat dari sini. Pantasan kamu betah kuliah di sini Mal”, sambil memandangi setiap panorama yang ada disekitar danau.
“ sudah, jawab dulu pertanyaanku yang tadi sempat tertunda”, desak Kemal penasaran.
“ sebenarnya begini Mal, aku kesini untuk mencari kerjaan untuk dapat membantu ibu di Desa. Karena rasa-rasanya kalau di desa tidak banyak yang bisa aku lakukan”
“ ibu sekarang hanya bisa tergulai di tempat tidur tak bedaya, ia terserang struk. Yang biasanya ia begitu semangat bekerja namun sekarang tak lagi”, Syamil menjelaskan namun wajahnya terlihat tetap tegar.
“Sekarang, aku sangat mengharapkan ibu dapat sembuh kembali seperti dulu. Olehnya itu aku harus kerja keras untuk memperoleh uang untuk pengobatan ibu” lanjut Syamil.
Tamparan keras bagi Kemal setiap kalimat yang diucapkan Syamil, Tragedi sebesar itu Syamil masih terlihat tegar. Tak ada sedikitpun kegundahan dalam dirinya.
“sungguh aku sangat malu pada diriku sendiri yang tak mampu bersabar disetiap ujian yang diberikan Allah padaku”, dalam hati kemal menyesal atas perkataannya tadi pagi.
***
Malam semakin membisu hanya suara jangkrik yang terdengar oleh telinga menemani Kemal dalam kesendiriannya. Kemal semakin terpuruk namun ia tak lagi ingin mengeluh atas takdir yang gariskan untuknya, ingatannya yang masih segar dengan untaian kalimat yang dilontarkan untuknya “Allah selalu Sama orang yang sabar adikku”. Sejak itu kemal berusaha menerima nasib yang kini ia alami.
Malam itu kemal memutuskan menghubungi sanak saudaranya, ia berharap jalan ini dapat membantu meringankan beban yang kini ia alami.  Ia menjelaskan apa yang sebenarnya ia alami. Satu, dua kerabat yang ia hubungi, akhirnya salah seorang langsung menelponnya untuk dapat membantunya. Pertanyaannya membuat kemal  terharu hingga ia harus meneteskan air mata. Ia bertanya berapa uang yang kini ia butuhkan untuk membayar kkn, kemal pun menjelaskan jumlah uang  yang ia butuhkan. Langsung malam itu saudara Kemal menghampirinya di kos-kosannya untuk mengantarkan uang untuk membayar pendaftaran kkn yang besok adalah datelinenya.
Hari yang cera membuat Kemal tersnyum pada mentari yang menyinarinya hari itu. Ia terlihat bahagia, ia nerjalan menapaki jalan yang penuh dengan rerumputan yang bergoyang, semut-semut berjajar rapi beraktivitas di hari itu, mereka seolah tahu apa yang sedang aku rasakan. Akupun tak luput menyapa mereka. Kicauan burung pun menemani Kemal dalam  perjalanannya. Dengan bibir yang terus mengucap syukur  Kemal terus berjalan. 30 menit menempuh perjalannan menuju bank akhirnya  Kemal tiba. Sapaan manis terlempar dari petugas keamanan bank, akupun membalas sapaan itu. Tanpa berlama-lama Kemal segera mengambil kwitansi pembayaran di loket.  Sekitar satu  jam Kemal mengantri akhirnya selesai juga transaksi dilakukan. Kemal pun bergegas pulang.
***
bersambung...