Detak
jam dinding terus berbunyi warnanya yang hitam membuat cicak nyaman bersembunyi
dibalik jam tersebut. sekarang yang menunjukan pukul 18.00 malam, aku terhanyut
dengan lamunan yang tak terarah diatas kursi empuk di teras rumah. Hari ini
adalah hari Sabtu. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan malam ini. Malam
terasa sunyi tak ada yang menyapaku, kalau biasa setiap malam minggu halamanku
dipenuhi canda tawa oleh anak-anak tetangga,dan kadang memanggil namaku, namun malam
ini terasa kelam. Seolah semua membisu padaku tak ada yang mau mengetahui apa
sebenarnya yang terjadi padaku, semuanya membungkam. Inikah yang harus ku alami
Tuhan. Wajah itu masih terbayang jelas dalam ingatanku. Serasa tak mungkin hal
ini terjadi. Ternyata Allah memiliki rencana lain dibalik kejadin ini. Kusandarkan
tubuhku ke kursi memandang langit dengan bulan yang selalu terlihat cerah dan
ceriah ditemani bintang-bintang yang selalu setia. Aku tak menyangka bisa
terpisa dengannya, seorang yang kucintai dari lubuk hati yang paling dalam.
walau
aku sudah tahu pacaran dalam islam itu
dilarang, kadang masih saja tanpa sadar aku terbayang oleh wajahnya. Aku
terhanyut dalam lamunan saat awal aku jadian dengannya. Suasana malam ini
berhasil menyeretku kembali ke masa lalu. Disat aku petrtama kali mengenal
pacaran.
****
Kesejukan
embun pagi menemaniku disebuah taman kecil di sekolah. Belum ada siswa yang
datang, hanya ada suara-suara burung yang menemaniku. sengaja aku mempercepat kehadiran
karena ada tugas yang harus kutulis bersama Farhan. Aku janjian pukul 06.30
disekolah. Sambil menunggu Farhan aku memainkan harmonika yang sempat ku bawa dari rumah. Sambil
memjamkan mata aku menikmati lantunan suara harmonica ini.
Tanpa
kusadari dari kejauhan Farhan memandangiku memainkan harmonica, entah apa yang
ada dalam pikirannya saat itu. Farhan adalah sahabat karibku sejak di bangku
SMP, dan sama-sama masuk di SMA favorit di desa. Setelah bebrapa lama Farhan
memandangiku, ia berjalan menemuiku dan menyapaku serta meledekku.
“Jannah
,,,,,”teriak Farhan dari kejauhan.
“wah,,,wah,,,
dibalik sifat pendiammu, ternyata kamu juga bisa main alat musik ini yah,” ia tertawa sambil tertawa menuju ke arahku.
“Masya
Allah”. Pemuda itu memuji kepiawaianku dalam memainkan alat musik ini. Dia terus
melontarkan kalimat-kalimat pujian untukku, sesekali ia memintaku untuk
mengulang tiupan harmonika yang kupegang, namun aku malu. Dan berpura-pura
tidak mau, sampai pada ia memohon sekali dan akhirnya aku luluh juga kemudian
memainkan alat musik itu. Detik terus melaju kencang seolah meninggalkanku dan
Farhan di taman. Tiba-tiba aku tersadar dan menanyakan tugas yang ku smskan
semalam.
“Astaghfirullah,,,
jam berapa ini Farhan? Kamu bawa kan tugas yang aku minta semalam. Karena mau
diselesaikan dan di kumpul jam 08.00 nanti”celetukku.
“oh tentu dong, Farhan kan selalu ingat apapun
yang di pinta oleh tuan putri Jannah, hehehe”, rayuan Farhan mulai keluar.
“ah,
Tuan putri, ada-ada saja kamu Han, cepat berikan padaku tugasnya”.
“hmmm,,
tunggu dulu. Sebelum aku berikan ini, ada satu hal yang aku pinta darimu.
Gimana?” lagi-lagi Farhan membuatku kesal. Akupun menayakan hal apakah yang ia
inginkan dariku. Kemudian Farhan mengatakan sesuatu hal padaku. Saat itu dia
tidak ada sedikitpun rasa malu dalam mengatakannya padaku.
Saat itu aku kaget dengan kalimat
yang diungkapkan padaku. Farhan mengatakan bahwa ia mencintaiku sejak kelas 1. Sontak
aku bertanya pandaya,
“
apa yang kau katakana Han, apa yang membuat kamu bisa mencintaiku dengan
sifatku yang begini”
“Jannah,
jujur aku dengan mantap mengatakan ini padamu, kita sudah bersahabat 5 tahun
dan itu membuatku kagum padamu, pada hari ini tanpa keraguan aku mengungkapkan
padamu, pohon-pohon akan menjadi saksi cinta suci kita berdua, sejak lama,
perasaan ini ingin ku ungkapkan padamu. Namun, suasananya tak pernah mendukung. Makanya, di
moment ini aku tak mau kehilangan kesempatan lagi, gimana Jan, mau kah kamu
menerima aku jadi pacarmu? Aku sungguh tulus mencintaimu”, ungkap Farhan.
Sebagai
wanita hatiku pun terluluhkan dengan kalimat-kalimat yang dirangkai oleh
Farhan. Akhirnya aku dan Farhan berpacaran, hari-hari kami lalui dengan kasih
sayang, dengan batasan-batasan tentunya.
Singkat cerita aku dan Farhan
akhirnya lulus SMA, Farhan dengan Nilai terbaik disekolah. Dia memiliki
cita-cita untuk melanjutkan kuliah di Universitas Islam Negeri. Dia tergolong orang yang mampu untuk lanjut
kuliah, sementara aku harus menganggur 1 tahun. aku berpisah dengan Farhan
untuk sementara. Waktu terus berguling sampai pada bulan ke 4 dari perpisahan
itu Farhan pun pulang ke desa dan menyempatkan diri untuk singgah di gubukku.,
malam itu adalah malam minggu Farhan kerumah untuk menemuiku akan tetapi aku
sedang mencuci piring di dapur, jadi ibu kusuruh menemuinya. Dan farhan pun mengucapkan
salam
“tok…tok…tok…
Assalamu’alaikum,,,”
“Wa’alaikumsalam,,,
eh nak Farhan,, sini masuk. Tumben kesini, apa kabar nak? Lama tak ada kabar”.
“Alhamdulillah
selalu baik bu,, iya nih bu, di kampus sibuk bener, sampai nggak pernah bisa
pulang ke desa. Ini kebetulan libur semester jadi menyempatkan pulang seminggu
ke rumah”
“owh,,
gitu”
Sambil
tersenyum “ hmmm, Jannah ada bu?”
“iya
ada, ayo,, duduk dulu nak, Jannah masih nyuci piring tuh. Tunggu yah ibu
panggilin”.
Sambil
berjalan kedapur ibu selalu tersenyum sambil melihat Farhan. Ibu menyuruhku
menemui farhan sambil membawa segelas the untuk nya. Kubuka tirai pintu sambil
tertunduk malu dengan segelas the. Saat itu aku sunggu tersipu malu, karena
sekian lama tak bertemu sang pujaan hati, akhirnya dimalam yang indah ini aku
di pertemukan dengannya (Terimakasi ya Allah) dalam hatiku.
“subhanallah
Jannah,,,”
Aku
hanya tersenyum saja.
“lama
sekali rasanya aku tak melihat wajahmu yang teduh itu, apa kabar kamu, dik?”
Tanya Farhan dengan panggilan sayangnya padaku.
“aku
Alhamdulillah selalu sehat-sehat dan selalu merindukanmu. Mas apa kabar?”
“iya,
aku juga baik-baik dik, gimana setahun dirumah apa ada yang lamar?” lagi-lagi
sifatnya yang membuat aku kesal muncul lagi.
“ah
Mas Farhan ada-ada saja deh, akukan setia menunggumu hingga akhir” celetukku.
“setia
hingga akhir.,,, wah,,, wah,, kayak slogannya kodam wirabuana yang ada di
Makassar dong,, hehehe”, sambil tersenyum Farhan terus meledekku. Akupun
tersenyum dengan candaan itu.
“dik,, gimana apa kamu nggak minat
tuk kuliah?”
“hmmm,,kalau
ditanya minat atau nggak? tentu aku minat banget Mas, tapi kata ibu tunggu dulu
deh, setahun lagi aja baru kuliah,biar uangnya ngumpul dulu” aku menjelaskan.
“owh
gitu,, jadi sekarang dik Jannah masih Jualan pakaian di pasar ya?”
“iya,
insya Allah uangnya akan cukup untuk di pake kuliah tahun depan. Doakan aja ya Mas.”
“sip..
Mas mu ini akan doakan yang terbaik untuk adikku tersayang”,sambil mengusap
kepalaku. Dalam hatiku hmmm,, indahnya jika suatu saat nanti aku bisa berumah
tangga dengan Farhan. Dia begitu baik dan ramah.
Waktu
semaikin tak mendukung keberadaan Farhan., waktu telah menunjukan pukul 21.00,
dengan kesadarannya sendiri Farhan pamit padaku. Dengan jabat tangan yang
kemudian tangan Farhan kukecup layaknya seorang istri. Akhirnya farhan pulang
aku melihatnya hingga bayangannya tertelan oleh embun malam.
Pohon-pohon
dipinggiran sungai menjadi saksi cinta suciku pada Farhan, saat itu aku
jalan-jalan bersamanya sehari sebelum keberangkatanya. Banyak cerita dan canda
saat itu padi-padi bergoyang karena hempasan angin, akan ia tetapi tetap kokoh
berdiri ditempatnya, seolah cemburu melihat kami berdua sedang bersenda-gurau,
Saat
Farhan telah kembali ke Makassar, setelah saat itulah komunikasi telah rengganng aku tak tau kenapa hal ini bisa
terjadi.
Malam
itu hpku berdering ku melihat kontak yang masuk
namanya Mas Farhan, tanpa ragu-ragu aku mengengkatnya,
“haloo,,
Assalamu’alaikum”
“yah,,
Wa’alaikumsalam”
“Mas
Farhan, tumben nelpon, sejak waktu itu, kakak udah nggak pernah telpon jannah,
ada apa kak?”
“hmmm,
dik jannah begini” terhanti sejenak, Farhan menghela nafas panjang-panjang
“afwan”
lanjutnya, kemudian terhenti aku pun
memotongnya,
“afwan,?
Namaku bukan Afwan”,celetukku., Farhan menggunakan bahasa yang kian lama tidak
ku mengerti. Entah apa maksudnya, namun lama-kelamaan aku dijelaskan maksud dan
tujuannya nelpon. Iapun menjelaskan apa yang ia dapatkan di Makassar setelah
kembali lagi kesana. Ternyata ia telah memperdalam ilmu agamanya, sehingga
sampai pada materi menundukan pandangan Farhan jadi mengerti bahwa dalam islam
itu tidak boleh pacaran,sehingga ia memutuskan hubungan ku dengannya,dan begitu yang dijelaskan padaku. Kemudian
Farhan juga memberi tahuku terbtang organisasi kampus yang ia ikuti saat itu
dia pernah bilang LEMBAGA DAKWAH KAMPUS gitu kalau nggak salah. Entah apalah itu. Aku nggak
punya gambaran sama sekali tentang hal itu. Perbincangan panjang di hp
membuatku tak kuasa menahan air mata. Perpisahan itu belum sepenuhnya bisa aku
terima, berhari hari aku menangis dan mengingat masa-masa bersamanya, ibu tak
kuat melihat isak tangisku. Aku tersiksa batin untuk beberapa hari.
*****
Aku
tersentak dari lamunan panjang itu setelah ibu memanggilku makan malam.
Kemudian aku istighfar. Aku tersadar dan aku menyesali telah melamun tentang
Farhan si masa laluku. Aku tak ingin mengingatnya lagi. Setelah sekian lama aku
ditinggalkan.
“jannah,
cepat nak, sayur keburu dingin nih. Kamu ini bagaimana toh ndok-ndok. Dari tadi
ibu memanggilmu kok kamu diam saja. Ada apa toh cah ayu?”, Tanya ibu padaku
dengan logat jawanya..
“tidak
ada apa-apa kok bu.”sambil mengambil piring.
“mbo’ kalau ada masalah, ceritain sama ibu.
Siapa tahu ibu punya solusinya.kalaupun tidak ada, setidaknya beban kamu bisa
berkurang nak”. Lanjut ibu. Aku terus berusaha menyembunyikan kerisauanku pada
ibu.
Waktunya
telah tiba saat ini aku berfikir untuk mendaftar kuliah di salah satu
universitas di Surabaya Yaitu ITS. Sebulan setelah diputuskan oleh farhan aku
tak lagi pernah pacaran,beberapa bulan di kampus. Seseorang telah mengajakku
kesuatu tempat kajian islam dihari jum’at kebetulan saat itu materinya adalah
tentang Makna Syahadat. Aku terenyuh dalam majelis itu, aku meneteskan air mata
saat itu. Menjalani hidup ini tanpa mengetahui mengenai hal terpenting seperti
syahadat ini. Ternyata aku hidup penuh dengan kesalahan. Dalam hati menceletuk
(ah,, tidak apa-apa. Soalnya sebelumnya aku belum mengetahui hal ini. Jadi setelah
berhijrah ini barulah aku paham tentang semua hukum-hukum islam yang
sesungguhnya.)
Setahun
aku beraktivitas di kampus aku mendapatkan kabar bahwa Farhan adalah seorang
aktivis dakwah di kampusnya. Saat ini benar-benar berjuang membela agama Allah.
Mulai dari mendidik anak-anak dan membina sebuah kelompok pengajian kecil.
Dalam hati aku sangat kagum dengannya, namun saat ini aku tak mau lagi
mengungkit ataupun mengenang masa lalu. Itu adalah masa jahiliya yang kelam.
Yang berlalu biarla menjadi sebuah pelajaran berharga. Saat ini aku dan dia
sama-sama berusha menambah ilmu agama. Sekarang aku tak akan lagi pacaran.
Biarlah Allah yang menentukan jodohku nanti.
Jalan
setapak kecil menuju kampus aku bertemu salah seorang teman tarbiyahku lantas
ia menyapaku
“asslamu’alaikum, ukhty,,,”
“wa’alaikumsalam”,
kami berdua sambil cipika-cipiki.dan dia berlalu begitu saja karena ada tugas
yang harus ia selesaikan.
Singkat
cerita, setelah 4 tahun aku kuliah akhirnya hari yang ditunggu pun tiba, aku
sarjana di hari kamis, 27 maret. Aku merasa bahagia karena, sekian lama berjuang
dengan tugas-tugas, akhirnya aku sarjana juga. Berselang 2 minggu, tiba-tiba
aku mendapat paket dari ibu. Dia bilang lihat-lihat dulu, jangan dibilangi
ke teman-teman yang lain. Kerena penasaran ku bertanya padanya,
“paket
apaan ini Bu, dan dari siapa?”
“ini biodata nak,”
“biodata?”,
aku kaget mengapa aku secepat itu menerima paket. Kemudian ibu
menjelaskan secara detail tentang biodata ini. Aku penasaran siapa lelaki yang memberiku biodata ini.
Diheningnya
malam yang membisu ditemani dengan suara-suara cicak, aku mencoba membuka paket
itu. Tiba-tiba aku tersentak kaget setelah ku tahu siapa yang mengirimiku biodata. Aku sedikit tak percaya melihatnya. Namun ini memang benar-benar dia
si Frahan masa laluku yang mengirimkan biodata ini. Sungguh aku sangat bahagia
malam itu. Walau dulu aku putus namun, ia kembali untuk cinta suci. Terima
kasih ya Allah.
akhirnya kehidupan Janna dan Farhan pun berjalan dengan penuh kasih sayang dan kesejukan iman.
***

