Senin, 01 Oktober 2012

CERPEN "KUNCI AJAIB KEHIDUPAN"



Kemal adalah seorang mahasiswa soleh yang ada di kampus merah Universitas Hasanuddin Makassar. sudah 3 tahun ia menjalani perkuliahan dari beasiswa yang ia dapat, kini menjelang tahun ke-4 ia  menjadi bingung dan risau atas biaya kuliah selanjutnya. Mana lagi dalam waktu dekat akan di adakan kkn di kampusnya dan beberapa waktu lalu Kemal sudah daftar sebagai peserta KKN (kuliah kerja nyata). Kemal semakin bingung. Kerena biaya KKN itu tak sedikit. Ia mendengar dari bebearapa senior bahwa biaya keseluruhan dari KKN itu kurang lebih 1 juta. Dan uang pendaftarannya sebesar 650 ribu.
Dalam hati ia mengadu pada Allah,”ya Allah dari manakah aku akan mendapatkan uang sebanyak itu, untuk makan aja aku biasanya menahan, apalagi ini uang sebanyak itu, mana mungkin aku meminta pada ibu”.
Kemal terus berkutat dengan pikirannya mencari cara agar nanti uang kkn itu dapat di bayarnya.  Hp kemal bordering tanda sms masuk (aslm. Kawan2 ada yang tau nggak bocoran lokasi kkn kita nanti dimana?), itu bunyi sms salah seorang teman jurusanya. Kemal semakin gunda setelah membaca sms itu.
Kemal hampir putus asa dengan satu ujian ini, padahal hanya tersisa satu langkah lagi menuju ke podium untuk mendapat gelar sarjana.
Dia tak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi semua ini. Saat ini ibunya bekerja hanya sebagai buruh tani pengumpul padi yang terjatuh saat pemilik lahan menggilingnya. Ia berfikir mana mungkin dia mengadu pada orang tuanya, untuk makan saja ibu harus berjuang memeras keringat, tak pandang panas sengatan matahari di siang bolong. Begitupun dengan ayah Kemal , saat ini ayah kemal sedang menggarap  kebun yang luasnya ¼ Ha berharap agar hasil kebun dapat membantu sedikit untuk memnuhi kebutuhannya sehari-hari.
Mengingat hal itu Kemal semakin takut untuk memberi tahukan kepada kedua orang tuanya tentang biaya KKN itu.
Selain ia berfikir bagaimana cara memperoleh uang  tetapi juga Keluhan demi keluhan selalu terlontar dari mulutnya.
Hari itu Kemal memutuskan meenunda dalam mencari cara mendapatkan dana kkn itu, yang kemudian dia beranjak keluar rumah untuk mencari ketenangan di sebuah danau kecil  yang terletak dikampusnya untuk menghilangkan rasa penat yang sempat menghinggapi hatinya.
“Kemal…. Kemal….” Ada suara melengking dari kejauhan  dekat danau.
Kemal pun segera membalikan kepalanya dan mencari-cari sumber suara yang menyebut namanya itu. Mata Kemal tertuju pada satu orang yang ia curigai dialah yang memanggilnya.
“hei… apa kabar brow..??? lama kita tak bersua”sumber suara tadi melanjutkan bicaranya.
Kemal tak ingin, jika teman lamanya itu mengetahui masalah yang ia hadapi, dan ia pun bertingkah seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu. lantas Kemal menjawab dengan senyuman “ hai Syamil, subhanallah ternyata kita dipertemukan Allah di tempat ini wahai sohibku, kabarku Alhamdulillah selalu dalam perlindungan Allah, dan kamu sendiri gimana kabarnya, terus kok kamu bisa-bisanya ada disini?” (Kemal sambil menepuk punggung Syamil)
“Alhamdulillah, aku juga sehat. Wah panjang ceritanya jika aku mau ceritakan padamu sahabatku ”, sambil berjalan perlahan.
“kalau gitu mari kita cari tempat duduk, agar kamu bisa ceritakan apa sebenarnya yang terjadi sampai kamu bisa ada disini”, mata Kemal terus mencari-cari tempat yang nyaman untuk mereka tempati. Telihat tepat di depan danau sebuah tempat yang indah dengan ukurannya yang mungil dan suasana yang nyaman karena adanya pohon yang melindungi dari matahari yang siap menyengat siapapun yang terkena sinarnya.
“ itu ada tempat depan danau, mari kita kesana”, lanjut Kemal sambil menarik tangan Syamil tanda ingin segera mengetahui yang terjadi sebenarnya.
“wah,, sungguh indah danaunya telihat dari sini. Pantasan kamu betah kuliah di sini Mal”, sambil memandangi setiap panorama yang ada disekitar danau.
“ sudah, jawab dulu pertanyaanku yang tadi sempat tertunda”, desak Kemal penasaran.
“ sebenarnya begini Mal, aku kesini untuk mencari kerjaan untuk dapat membantu ibu di Desa. Karena rasa-rasanya kalau di desa tidak banyak yang bisa aku lakukan”
“ ibu sekarang hanya bisa tergulai di tempat tidur tak bedaya, ia terserang struk. Yang biasanya ia begitu semangat bekerja namun sekarang tak lagi”, Syamil menjelaskan namun wajahnya terlihat tetap tegar.
“Sekarang, aku sangat mengharapkan ibu dapat sembuh kembali seperti dulu. Olehnya itu aku harus kerja keras untuk memperoleh uang untuk pengobatan ibu” lanjut Syamil.
Tamparan keras bagi Kemal setiap kalimat yang diucapkan Syamil, Tragedi sebesar itu Syamil masih terlihat tegar. Tak ada sedikitpun kegundahan dalam dirinya.
“sungguh aku sangat malu pada diriku sendiri yang tak mampu bersabar disetiap ujian yang diberikan Allah padaku”, dalam hati kemal menyesal atas perkataannya tadi pagi.
***
Malam semakin membisu hanya suara jangkrik yang terdengar oleh telinga menemani Kemal dalam kesendiriannya. Kemal semakin terpuruk namun ia tak lagi ingin mengeluh atas takdir yang gariskan untuknya, ingatannya yang masih segar dengan untaian kalimat yang dilontarkan untuknya “Allah selalu Sama orang yang sabar adikku”. Sejak itu kemal berusaha menerima nasib yang kini ia alami.
Malam itu kemal memutuskan menghubungi sanak saudaranya, ia berharap jalan ini dapat membantu meringankan beban yang kini ia alami.  Ia menjelaskan apa yang sebenarnya ia alami. Satu, dua kerabat yang ia hubungi, akhirnya salah seorang langsung menelponnya untuk dapat membantunya. Pertanyaannya membuat kemal  terharu hingga ia harus meneteskan air mata. Ia bertanya berapa uang yang kini ia butuhkan untuk membayar kkn, kemal pun menjelaskan jumlah uang  yang ia butuhkan. Langsung malam itu saudara Kemal menghampirinya di kos-kosannya untuk mengantarkan uang untuk membayar pendaftaran kkn yang besok adalah datelinenya.
Hari yang cera membuat Kemal tersnyum pada mentari yang menyinarinya hari itu. Ia terlihat bahagia, ia nerjalan menapaki jalan yang penuh dengan rerumputan yang bergoyang, semut-semut berjajar rapi beraktivitas di hari itu, mereka seolah tahu apa yang sedang aku rasakan. Akupun tak luput menyapa mereka. Kicauan burung pun menemani Kemal dalam  perjalanannya. Dengan bibir yang terus mengucap syukur  Kemal terus berjalan. 30 menit menempuh perjalannan menuju bank akhirnya  Kemal tiba. Sapaan manis terlempar dari petugas keamanan bank, akupun membalas sapaan itu. Tanpa berlama-lama Kemal segera mengambil kwitansi pembayaran di loket.  Sekitar satu  jam Kemal mengantri akhirnya selesai juga transaksi dilakukan. Kemal pun bergegas pulang.
***
bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar