Kemal
adalah seorang mahasiswa soleh yang ada di kampus merah Universitas Hasanuddin
Makassar. sudah 3 tahun ia menjalani perkuliahan dari beasiswa yang ia dapat,
kini menjelang tahun ke-4 ia menjadi
bingung dan risau atas biaya kuliah selanjutnya. Mana lagi dalam waktu dekat
akan di adakan kkn di kampusnya dan beberapa waktu lalu Kemal sudah daftar
sebagai peserta KKN (kuliah kerja nyata). Kemal semakin bingung. Kerena biaya KKN
itu tak sedikit. Ia mendengar dari bebearapa senior bahwa biaya keseluruhan
dari KKN itu kurang lebih 1 juta. Dan uang pendaftarannya sebesar 650 ribu.
Dalam
hati ia mengadu pada Allah,”ya Allah dari manakah aku akan mendapatkan uang
sebanyak itu, untuk makan aja aku biasanya menahan, apalagi ini uang sebanyak
itu, mana mungkin aku meminta pada ibu”.
Kemal
terus berkutat dengan pikirannya mencari cara agar nanti uang kkn itu dapat di
bayarnya. Hp kemal bordering tanda sms
masuk (aslm. Kawan2 ada yang tau nggak bocoran lokasi kkn kita nanti dimana?),
itu bunyi sms salah seorang teman jurusanya. Kemal semakin gunda setelah
membaca sms itu.
Kemal hampir
putus asa dengan satu ujian ini, padahal hanya tersisa satu langkah lagi menuju
ke podium untuk mendapat gelar sarjana.
Dia tak
tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi semua ini. Saat ini ibunya bekerja
hanya sebagai buruh tani pengumpul padi yang terjatuh saat pemilik lahan
menggilingnya. Ia berfikir mana mungkin dia mengadu pada orang tuanya, untuk
makan saja ibu harus berjuang memeras keringat, tak pandang panas sengatan
matahari di siang bolong. Begitupun dengan ayah Kemal , saat ini ayah kemal
sedang menggarap kebun yang luasnya ¼ Ha
berharap agar hasil kebun dapat membantu sedikit untuk memnuhi kebutuhannya
sehari-hari.
Mengingat
hal itu Kemal semakin takut untuk memberi tahukan kepada kedua orang tuanya
tentang biaya KKN itu.
Selain ia
berfikir bagaimana cara memperoleh uang
tetapi juga Keluhan demi keluhan selalu terlontar dari mulutnya.
Hari itu
Kemal memutuskan meenunda dalam mencari cara mendapatkan dana kkn itu, yang
kemudian dia beranjak keluar rumah untuk mencari ketenangan di sebuah danau
kecil yang terletak dikampusnya untuk
menghilangkan rasa penat yang sempat menghinggapi hatinya.
“Kemal….
Kemal….” Ada suara melengking dari kejauhan
dekat danau.
Kemal pun
segera membalikan kepalanya dan mencari-cari sumber suara yang menyebut namanya
itu. Mata Kemal tertuju pada satu orang yang ia curigai dialah yang
memanggilnya.
“hei… apa
kabar brow..??? lama kita tak bersua”sumber suara tadi melanjutkan bicaranya.
Kemal tak
ingin, jika teman lamanya itu mengetahui masalah yang ia hadapi, dan ia pun
bertingkah seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu. lantas Kemal menjawab dengan
senyuman “ hai Syamil, subhanallah ternyata kita dipertemukan Allah di tempat
ini wahai sohibku, kabarku Alhamdulillah selalu dalam perlindungan Allah, dan
kamu sendiri gimana kabarnya, terus kok kamu bisa-bisanya ada disini?” (Kemal
sambil menepuk punggung Syamil)
“Alhamdulillah,
aku juga sehat. Wah panjang ceritanya jika aku mau ceritakan padamu sahabatku ”,
sambil berjalan perlahan.
“kalau
gitu mari kita cari tempat duduk, agar kamu bisa ceritakan apa sebenarnya yang
terjadi sampai kamu bisa ada disini”, mata Kemal terus mencari-cari tempat yang
nyaman untuk mereka tempati. Telihat tepat di depan danau sebuah tempat yang
indah dengan ukurannya yang mungil dan suasana yang nyaman karena adanya pohon
yang melindungi dari matahari yang siap menyengat siapapun yang terkena
sinarnya.
“ itu ada
tempat depan danau, mari kita kesana”, lanjut Kemal sambil menarik tangan Syamil
tanda ingin segera mengetahui yang terjadi sebenarnya.
“wah,,
sungguh indah danaunya telihat dari sini. Pantasan kamu betah kuliah di sini
Mal”, sambil memandangi setiap panorama yang ada disekitar danau.
“ sudah, jawab
dulu pertanyaanku yang tadi sempat tertunda”, desak Kemal penasaran.
“
sebenarnya begini Mal, aku kesini untuk mencari kerjaan untuk dapat membantu
ibu di Desa. Karena rasa-rasanya kalau di desa tidak banyak yang bisa aku
lakukan”
“ ibu
sekarang hanya bisa tergulai di tempat tidur tak bedaya, ia terserang struk.
Yang biasanya ia begitu semangat bekerja namun sekarang tak lagi”, Syamil
menjelaskan namun wajahnya terlihat tetap tegar.
“Sekarang,
aku sangat mengharapkan ibu dapat sembuh kembali seperti dulu. Olehnya itu aku
harus kerja keras untuk memperoleh uang untuk pengobatan ibu” lanjut Syamil.
Tamparan keras
bagi Kemal setiap kalimat yang diucapkan Syamil, Tragedi sebesar itu Syamil
masih terlihat tegar. Tak ada sedikitpun kegundahan dalam dirinya.
“sungguh
aku sangat malu pada diriku sendiri yang tak mampu bersabar disetiap ujian yang
diberikan Allah padaku”, dalam hati kemal menyesal atas perkataannya tadi pagi.
***
Malam
semakin membisu hanya suara jangkrik yang terdengar oleh telinga menemani Kemal
dalam kesendiriannya. Kemal semakin terpuruk namun ia tak lagi ingin mengeluh
atas takdir yang gariskan untuknya, ingatannya yang masih segar dengan untaian
kalimat yang dilontarkan untuknya “Allah selalu Sama orang yang sabar adikku”.
Sejak itu kemal berusaha menerima nasib yang kini ia alami.
Malam itu
kemal memutuskan menghubungi sanak saudaranya, ia berharap jalan ini dapat
membantu meringankan beban yang kini ia alami.
Ia menjelaskan apa yang sebenarnya ia alami. Satu, dua kerabat yang ia
hubungi, akhirnya salah seorang langsung menelponnya untuk dapat membantunya.
Pertanyaannya membuat kemal terharu
hingga ia harus meneteskan air mata. Ia bertanya berapa uang yang kini ia
butuhkan untuk membayar kkn, kemal pun menjelaskan jumlah uang yang ia butuhkan. Langsung malam itu saudara
Kemal menghampirinya di kos-kosannya untuk mengantarkan uang untuk membayar
pendaftaran kkn yang besok adalah datelinenya.
Hari yang
cera membuat Kemal tersnyum pada mentari yang menyinarinya hari itu. Ia
terlihat bahagia, ia nerjalan menapaki jalan yang penuh dengan rerumputan yang
bergoyang, semut-semut berjajar rapi beraktivitas di hari itu, mereka seolah
tahu apa yang sedang aku rasakan. Akupun tak luput menyapa mereka. Kicauan
burung pun menemani Kemal dalam
perjalanannya. Dengan bibir yang terus mengucap syukur Kemal terus berjalan. 30 menit menempuh
perjalannan menuju bank akhirnya Kemal
tiba. Sapaan manis terlempar dari petugas keamanan bank, akupun membalas sapaan
itu. Tanpa berlama-lama Kemal segera mengambil kwitansi pembayaran di
loket. Sekitar satu jam Kemal mengantri akhirnya selesai juga
transaksi dilakukan. Kemal pun bergegas pulang.
***
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar