Dulu aku tak bangga, dulu aku takut, dulu
aku tak pernah memandangnya, dan dulu aku segan padanya. Aku yang terlalu pendiam
membuat diriku tak banyak bicara
dengannya. Tak ada sapaan, tak ada
senyuman dan tak ada pula candaan. Waktu itu aku tak pernah merasakan indahnya
jalinan kasih sayang antara adik kakak. waktu itu Sikapnya yang tegas membuatku
takut, wajahnya yang serius membuatku segan. Yah itulah salah satu
saudaraku dan itulah tingkahku saat aku masih duduk di bangku SMP sampai SMA.
Dia adalah salah satu saudara kandungku diantara delapan bersaudara. Dulu aku tak pernah mengerti
artinya disiplin, dulu aku takut dengan ketegasannya. Dulu aku tak mengerti apa
tujuannya mengdopsi sikap seperti itu. Dulu aku menganggap dia terlalu dingin
dengan semua orang entah itu ayah dan saudara-saudaraku lainnya.
Namun disisi lain aku bangga padanya,
semangat belajarnya sangat besar. Masih teringat jelas dipikiranku saat ia
menjadi juara di SMPnya dia membawa pulang hadiah dari sekolah saat itu. Dulu
(kurang lebih sepuluh tahun lalu) kakak adalah siswa yang pandai dan
berprestasi, diam-diam aku mengamatinya setiap ia belajar di rumah dan yang
sering terlihat dari pantauanku dia sering sekali belajar Kimia. Setiap membuka
buku pasti yang kulihat adalah mata pelajaran kimia, namun aku tak tahu kalau
ada buku lain yang ia baca saat itu. Aku duduk di bangku kelas satu SMP waktu
itu, rasa penesaranku dengan mata pelajaran kimia pun meningkat. Aku diam-diam
meminjam buku kakak saat itu tanpa sepengetahuannya dan akupun membacanya.
Aku ingat, dulu kakak adalah tipe orang
yang tak mau mengeluh dan tak mau memintah apa-apa dari orang tua.
Sampai-sampai selama tiga tahun kakak hanya memiliki satu seragam sekolah, satu
sepatu, dan tak menggunakan tas saat kesekolah. dia benar-benar orang yang tak
mau menyulitakan orang tua. Dia selalu kasihan jika melihat orang tua
kesulitan. Dia adalah satu-satunya saudaraku yang benar-benar tegas dan dibalik
ketegasannya itu tersimpan kasih sayang yang luar biasa pada kami adik-adiknya
dan pada orang tua.
Aku teringat saat kakak baru saja lulus SMA
dan saat itu aku baru masuk SMP, entah karena masalah apa dengan ayah, sehingga ia pergi dari rumah. Dia
merantau ke pulau seberang yaitu Kalimantan. Berbulan-bulan ia tidak pulang. Aku tidak tahu bersama siapa kakak tinggal
disana. Sejak kepergian kakak, ibu tak pernah berhenti mengeluarkan air mata.
Ibu sangat sedih saat itu. Bagaimana tidak sedih, sepertinya kakak pergi tanpa berpamitan dengan ibu. Ibu sangat
khawatir , rintihannya begitu memiluhkan. Beberapa sanak keluarga pun dihubungi
untuk mencari informasi tentang keberadaan kakak di Kalimantan. Setelah tahu
posisi dan dengan siapa kakak di
Kalimantan ibu pun sedikit membaik. Namun masih tetap khawatir dengan kondisi
kakak.
Kini aku beranjak dewasa dan telah kuliah
aku pun tahu betapa hebatnya kakakku yang satu ini. Kesalahan yang dulu aku lakukan
adalah aku terlalu pendiam dan takut, sehingga tidak ada yang memulai
pembicaraan diantara kita . Namun sekarang telah berbeda, kakak bersikap cair
dan terbuka padaku. Saat inilah aku bangga pada sikapnya yang dulu dan baru saat ini aku memahaminya. Ternyata dia
memiliki tujuan yang jelas dan memiliki prinsip yang kuat dalam hidupnya. Karena
belas kasih pada orang tua sehingga ia tak mau melanjutkan studinya ke jenjang
perguruan tinggi. Ia takut akan menyulitkan ayah dan ibu. Sehingga saat ini ia
hanya seorang yang lulusan SMA. Wlaupun hanya lulusan SMA namun pengalamannya
sanagt luar biasa, semangatnya bekerja pun sangat besar.
Saat ini aku kuliah disalah satu
universitas terbesar di wilayah Indonesia Timur dengan mengandalkan Beasiswa.
Aku berangkat dari kampung kecil yang berada di Pulau Sulawesi Selatan. Saat
aku hendak berangkat ke Kota kakak masih belum pulang. sepertinya setelah dari
Kalimantan kakak pindah ke Kota Makassar. Sementara aku hendak berangkat ke Kota Makassar untuk melanjutkan studi.
Akhirnya aku dan kakak pun satu wilayah. Sehingga selain bantuan dari beasiswa,
aku juga mendapat bantuan dari kakak. Komunikasi ku pun semakin baik dengannya.
Cerita demi cerita mambuat kami akrab.
Saat ini aku bangga telah mempunyai kakak
sepertinya. Takut, segan dan yang dulu ada dalam diriku kini telah hilang
termakan oleh waktu. Aku bahagia karena Allah memberiku saudara sepertinya. Aku
yakin Allah akan menjaganya hingga akhir.
SALAM RINDU UNTUK
KAKAK
Ya Allah…
Aku yakin engkau
akan menjaganya
Berilah ia
kesabaran dan ketabahan
dalam menjalani hidup ini
Teguhkanlah hatinya
dalam rahmatMu
Berilah ia disetiap
cahayaMu
Ampunilah setiap
kekhilafan yang ia lakukan
Ya Allah..
Sampaikanlah salam
rinduku padanya…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar