Senin, 24 September 2012

DULU AKU TAK PEDULI


Dulu aku tak bangga, dulu aku takut, dulu aku tak pernah memandangnya, dan dulu aku segan padanya. Aku yang terlalu pendiam membuat diriku tak banyak  bicara dengannya. Tak  ada sapaan, tak ada senyuman dan tak ada pula candaan. Waktu itu aku tak pernah merasakan indahnya jalinan kasih sayang antara adik kakak. waktu itu Sikapnya yang tegas membuatku takut,  wajahnya yang  serius membuatku segan. Yah itulah salah satu saudaraku dan itulah tingkahku saat aku masih duduk di bangku SMP sampai SMA. Dia adalah salah satu saudara kandungku diantara delapan  bersaudara. Dulu aku tak pernah mengerti artinya disiplin, dulu aku takut dengan ketegasannya. Dulu aku tak mengerti apa tujuannya mengdopsi sikap seperti itu. Dulu aku menganggap dia terlalu dingin dengan semua orang entah itu ayah dan saudara-saudaraku lainnya.
Namun disisi lain aku bangga padanya, semangat belajarnya sangat besar. Masih teringat jelas dipikiranku saat ia menjadi juara di SMPnya dia membawa pulang hadiah dari sekolah saat itu. Dulu (kurang lebih sepuluh tahun lalu) kakak adalah siswa yang pandai dan berprestasi, diam-diam aku mengamatinya setiap ia belajar di rumah dan yang sering terlihat dari pantauanku dia sering sekali belajar Kimia. Setiap membuka buku pasti yang kulihat adalah mata pelajaran kimia, namun aku tak tahu kalau ada buku lain yang ia baca saat itu. Aku duduk di bangku kelas satu SMP waktu itu, rasa penesaranku dengan mata pelajaran kimia pun meningkat. Aku diam-diam meminjam buku kakak saat itu tanpa sepengetahuannya dan akupun membacanya.
Aku ingat, dulu kakak adalah tipe orang yang tak mau mengeluh dan tak mau memintah apa-apa dari orang tua. Sampai-sampai selama tiga tahun kakak hanya memiliki satu seragam sekolah, satu sepatu, dan tak menggunakan tas saat kesekolah. dia benar-benar orang yang tak mau menyulitakan orang tua. Dia selalu kasihan jika melihat orang tua kesulitan. Dia adalah satu-satunya saudaraku yang benar-benar tegas dan dibalik ketegasannya itu tersimpan kasih sayang yang luar biasa pada kami adik-adiknya dan pada orang tua.
Aku teringat saat kakak baru saja lulus SMA dan saat itu aku baru masuk SMP, entah karena masalah apa  dengan ayah, sehingga ia pergi dari rumah. Dia merantau ke pulau seberang yaitu Kalimantan. Berbulan-bulan ia tidak pulang.  Aku tidak tahu bersama siapa kakak tinggal disana. Sejak kepergian kakak, ibu tak pernah berhenti mengeluarkan air mata. Ibu sangat sedih saat itu. Bagaimana tidak sedih, sepertinya  kakak pergi tanpa berpamitan dengan ibu. Ibu sangat khawatir , rintihannya begitu memiluhkan. Beberapa sanak keluarga pun dihubungi untuk mencari informasi tentang keberadaan kakak di Kalimantan. Setelah tahu posisi dan dengan siapa  kakak di Kalimantan ibu pun sedikit membaik. Namun masih tetap khawatir dengan kondisi kakak.
Kini aku beranjak dewasa dan telah kuliah aku pun tahu betapa hebatnya kakakku yang satu ini. Kesalahan yang dulu aku lakukan adalah aku terlalu pendiam dan takut, sehingga tidak ada yang memulai pembicaraan diantara kita . Namun sekarang telah berbeda, kakak bersikap cair dan terbuka padaku. Saat inilah aku bangga pada sikapnya yang dulu dan  baru saat ini aku memahaminya. Ternyata dia memiliki tujuan yang jelas dan memiliki prinsip yang kuat dalam hidupnya. Karena belas kasih pada orang tua sehingga ia tak mau melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi. Ia takut akan menyulitkan ayah dan ibu. Sehingga saat ini ia hanya seorang yang lulusan SMA. Wlaupun hanya lulusan SMA namun pengalamannya sanagt luar biasa, semangatnya bekerja pun sangat besar.
Saat ini aku kuliah disalah satu universitas terbesar di wilayah Indonesia Timur dengan mengandalkan Beasiswa. Aku berangkat dari kampung kecil yang berada di Pulau Sulawesi Selatan. Saat aku hendak berangkat ke Kota kakak masih belum pulang. sepertinya setelah dari Kalimantan kakak pindah ke Kota Makassar. Sementara aku hendak berangkat  ke Kota Makassar untuk melanjutkan studi. Akhirnya aku dan kakak pun satu wilayah. Sehingga selain bantuan dari beasiswa, aku juga mendapat bantuan dari kakak. Komunikasi ku pun semakin baik dengannya. Cerita demi cerita mambuat kami akrab.
Saat ini aku bangga telah mempunyai kakak sepertinya. Takut, segan dan yang dulu ada dalam diriku kini telah hilang termakan oleh waktu. Aku bahagia karena Allah memberiku saudara sepertinya. Aku yakin Allah akan menjaganya hingga akhir.
SALAM RINDU UNTUK KAKAK
Ya Allah…
Aku yakin engkau akan menjaganya
Berilah ia kesabaran dan ketabahan
 dalam menjalani hidup ini
Teguhkanlah hatinya dalam rahmatMu
Berilah ia disetiap cahayaMu
Ampunilah setiap kekhilafan yang ia lakukan
Ya Allah..
Sampaikanlah salam rinduku padanya…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar