MENCINTAI KEHILANGAN
Terpancar dari wajahnya cahaya keimanan, terlihat wajah seseorang yang senantiasa qiyamul lail. Wajahnya enak dipandang senyumnya begitu menawan, ah, aku tak kuasa memandangnya. Dari kejauhan dia terliat ceria menyapa beberapa orang yang melintas di hadapannya, dia terlihat begitu ramah kepada siapa saja.
Pagi itu aku berdiri dekat jendela kantorku menghadap tempat ia bekerja, memandangi setiap gerak gerik yang ia lakukan. Sesekali aku melihatnya mengusap keringat di dahi petanda ia sedang kelelahan, tapi wajanya masih saja terlihat segar tidak ada raut keluh kesah. Sunggu ia benar-benar luar biasa.
Waktu semakin sore aku harus segera pulang, namun sejujurnya aku tak ingin waktu ini berlalu, aku ingin lebih lama disini namun aku harus pergi. Pergi meninggalkan segala aktivitas hari ini. Aku berharap esok aku kembali menemuinya walau hanya dari kejauhan. Aku tak pernah berharap bisa dekat dengannya namun aku selalu berharap bisa selalu melihatnya bahagia dan ceria setiap saat. Aku juga tak pernah berharap dia tau atau tidak mengenai perasaanku ini. Yang terpenting dia harus istiqomah dengan sifatnya itu "ramah".
Hari semakin gelap maka ku ambil helm hitam di bawah meja kerjaku kemudian aku berlalu menuju parkiran, sejenak ku tegok ke arah meja kerja barangkali ada sesuatu tertinggal, setelah ku pastikan semua aku langsung pergi.
Sesekali aku melihatnya kembali sesaat setelah aku mengendarai motor bututku. Aku hanya bisa tersenyum sendiri kemudian berlalu.
Hari kembali pagi, seperti biasa aku bergegas mempersiapkan perbekalan untuk ke kantor dan berangakat lebih pagi.
Dari ujung jalan aku melihat mobil hitam itu telah mendahuluiku masuk ke halaman kantor, dengan rasa tidak terima karena aku sudah bertekad hari ini akulah karyawan pertama yang harus tiba di kantor, olehnya itu aku menambah kecepatan motorku mengejar mobil kijang hitam tadi. Setiba di depan gerbang tiba-tiba aku terhenti, aku melihatnya sudah berdiri di depan ruangannya. Akhirnya amarahku pun hilang dan aku tersipu malu sendiri, aku malu dengan diriku sendiri karena marah gak jelas.
*****
Beberapa hari ini aku mulai merasa sedih, waktu terus berlalu dan pada akhirnya aku akan pergi, yaa aku akan meninggalkan semua aktivitas harianku disini, aku akan kembali menjelajahi bumi lain, bumi yang penuh berkah insyaa Allah. Aku pasti akan merindukannya tapi sebenarnya aku sangat bodoh jika akan merindukannya karena aku sudah mengetahui kedepannya tentang dia. Ah entah rasa apa yang telah merasuki dadaku ini, sampai-sampai aku sangat bodoh tentang ini.
Aku akan kembali menjalajahi bumi Allah untuk mendapatkan keberkahan yang lebih besar, insya Allah. Aku yakin Allah akan mempertemukan aku dan dia disana nanti walau aku tahu kadang keyakinan tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
Aku harus pergi, aku tahu aku tidak bisa memendam ini lama-lama, lebih baik aku menjauh dan mencari sesuatu yang lebih bermanfaat dari pada memikirkan yang tidak jelas arahnya. Aku harus meraih cita-citaku yang lebih besar dan aku harus belajar untuk melupakan segala kenangan tentang dia.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar