Kamis, 17 Desember 2015

SI PENJUAL SANDAL

14 Maret 2013

       Pengalaman pertama menjual sendal kepada masyarakat kota, untuk hari pertama ini Alhamdulillah lancar dan respon dari masyarakat cukup baik. Berjalan kaki dari rumah ke rumah menawarkan barang dagangan dengan sabar, kadang tertolak kadang juga disambut dengan baik. Itula gambaran hari pertama saat ku putuska  untuk mencoba menjual sandal jepit. Aku sangat bersyukur dengan jalan yang ku tempuh saat itu, walau terlihat sepele ternyata pekerjaan itu butuh kesabaran yang lebih, agar tetap laris dan mendapatkan untung. Sebagian konsumen yang ku temui mengira bahwa aku adalah anak kuliah jurusan pemasaran, padahal itu salah besar. Style pakaian yang ku kenakan ya selayaknya seorang akhwat dan memang  layaknya mahasiswi pada umumnya maka dari itu tak heran jika sebagian orang mengira mahasiswa pemasaran, toh aku memang seorang mahasiswi.


       Terik matahari memanggang tubuh, rasanya ubun-ubu  ini telah mendidih.  Untuk mendapatkan pundi-pundi Rupiah, Panasnya matahari pun hampir saja tak ku rasakan, karena terlalu khusu’ dalam menjajakan sandal. Uang hasil penjual selanjutkan akan aku gunakan untuk menyambung hidup di kota, tepatnya dana untuk naik angkot ke kampus, hehe, karena aku tak ingin merepotkan ibu bapak yang ada di kampung. Sejenak aku melihat jam di HP, waktu sudah menunjukan pukul 11.30, dan tak lama kemudian suara tilawah dari masjid terdengar. Aku memutuskan untuk istrahat sejenak dimasjid, namun sebelumnya aku menyempatkan untuk menawarkan barang daganganku kepada seorang warga, tapi ternyata aku tidak berhasil menawarkan. Jadi aku langsung memutuskan tuk terus menuju masjid terdekat. Sesekali aku mengusap keringat di dahi yang hampir menetes ke mata. Tenggorokanku terasa kering, haus sekali, ingin rasa minum.es kelapa di campur sirup. Ah aku membayangkan itu sangat nikmat. Namun, aku hanya bisa membayakannya saja, karena di area masjid tidak terdapat satupun penjual es yang standby. Langkahku tak terhenti hingga di depan pintu masuk masjid. Tiba-tiba aku bertemu dua anak SD usai mengambil air wudhu, teduh rasanya melihat mereka yang mau singgah ke masjid untuk menunaikan sholat padahal mereka masih SD. Dalam hati aku berkata, “senang rasanya jika anak-anak indonesia seperti mereka", dan aku langsung bertanya pada mereka tempat wudhu untuk perempuan dimana, mereka pun menunjukan dan aku langsung menuju tempat wudhu. Segar sekali air wudhu ini, jadi obat kelelahan siang ini, setelah berjalan di bawah sinar matahari air wudhu ini benar-benar syurga dunia, Alhamdulillah. Setelah berwudhu aku melaksanakan sholat sunnah tahiyyatul masjid dua rakaat, dan sembari ia berdzikir, tiba-tiba seorang wanita tua bercadar menegurku  dari belakang “he,,,,dari mana nak?”, sontak aku  berbalik dan  sedikit bingung. Aku sangat bingung sepertinya suara orang tua itu tak asing ditelingaku, aku mencoba mengotak-atik otakku untuk menemukan sambungan memori dari suara itu, dan aku mencoba mengamati  sebagian dari wajahnya karena sebagian lagi tertutupi oleh cadar, agaknya aku sulit untuk mengenali ibu tua itu. Kembali aku mencoba mengotak atik otakku untuk mencari memori yang mungkin telah terpendam oleh jutaan memori lainnya, agaknya aku mulai menememukan sambungan memori suara itu,  Alhamdulillah aku telah mengingat nada suara itu. Namun aku hanya bisa menebaknya  dengan basa basi dulu " Ibu dari SMAN 1 BB ya" seperti ada kekuatan dalam hati untuk menyebutkan kata itu,  Allahu Akbar  dan ternyata benar ibu itu adalah guru di SMA 1 BB,asal sekolahku dulu ,  suara beliau tak asing di telinganku, yah ibu Ihra namanya, beliau juga pernah menjadi guru ngajiku saat ia masih SMA. Tiba-tiba air  mataku meleleh, sungguh indah rencana Allah, tak ku sangka bisa bertemu guru biologiku waktu SMA dulu

     Setelah sholat dhuhur aku berpamitan pulang sama ibu, sebelumnya aku menjelaskan bahwa aku dari keliling menjajakan sandal harian, ibu pun berminat dan membelinya satu. Dan kami pun berpisah. Sejak hari itu, aku selalu semangat menjajahkan sandal jualan. Namun sayang sekali hanya bertahan dua minggu aku berjualan, hal ini dikarenakan jangkauan lokasi penjajakan semakin jauh, aku tak sanggup lagi keliling lebih jauh hanya dengan jalan kaki. Namun aku tak berkecil hati untuk berhenti dari pekerjaan itu, aku yakin bahwa Allah memiliki rencana lain untukku, dan setelah sekian lama aku tak berangkat ke kampus karena kesibukan itu, akhirnya aku memulai aktivitasnya sebagai aktivis dakwah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar