Selasa, 18 September 2012

INDAHNYA JALAN INI

19 september 2012

      Kenangan yang indah ketika financial tak lagi mendukung,ketika tak ada lagi teman yang perduli, namun Allah selalu bersamaku kapanpun, dimana pun aku berada. Aku adalah orang yang paling bahagia, tak hanya itu aku akan mengenang hari ini dimanapun aku berada, aku merasa aku adalah orang yang paling disayangi Allah Swt. Aku bangga telah merasakan iman ini. Aku terjebak kedalam lembah kebaikan, yang akan menyelamatkan aku di dunia maupun di akhirat, awal aku terlibat dalam jalan ini adalah saat aku pertama kali memasuki Universitas Hasanuddin, aku mengikuti aroma-aroma ketawadhuan disana. Allah sudah mengaturnya sedemikian rupa sehingga aku benar-benar terjebak.
Sebuah cita-cita dan tekad yang kuat dari lubuk hati untuk melanjutkan kuliah, ternyata  membawaku kepada semua ini, walau dulu aku adalah tergolong orang yang tak mampu jika harus melanjutkan ke sekolah di kota , dikampus terbesar di Indonesia Timur, hal itu mungkin tak pernah terbayang dibenak kedua orang tuaku. Namun  Aku selalu berusaha berprasangka baik kepada Allah, bahwa segala sesuatu itu akan ada jalannya.
Jalan itu adalah jalan dakwah. Jalan yang menuntunku ke jalan syurga. Walau di dunia tidak ada orang yang mengenali siapa aku ini, tapi aku hanya ingin terkenal dikalangan penghuni langit. Aku menginginkan hal itu, karena disanalah tempatku menetap suatu saat. Sebelum aku kembali kesana aku ingin terkenal terlebih duluh. Disinilah jalannya, menyelamatkan agama Allah, maka Allah akan menolong kita di dunia. kita lanjutkan perjuangan Rasulullah dalam menyiarkan agama islam, kalau dulu beliau menyeruh agama Islam kepada kaum jahiliyah yang belum mengenal agama ini, sekarang kita menyeruh agama islam kepada orang-orang yang telah mengakui dirinya islam namun belum mengenali agamanya sendiri. Sungguh miris kalau kita tengok diluar sana,  kita sudah tak dapat membedakan antara wanita muslim dengan wanita non muslim. Sunggu benar-benar mereka belum mengenali agamanya. Padahal dalam alqur’an telah dijelaskan dal QS; Al-Ahzab ayat 56 Allah berfirman “wahai Nabi seruhlah istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan yang beriman, melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya(semaa mereka keluar), cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu dan (ingatlah) Allah maha pengampun lagi maha mengasihani”.  Disinilah peranku saat ini, bagaimana aku berusaha untuk mengajak mereka pada jalan yang benar.
Sebuah tujuan yang mulia, yang dapat membuat semua mendapatkan syafaatnya, hal itulah yang mendorongku terus mengikuti jalan dakwah ini. Tenaga yang terkuras bukanlah kelelahan bagiku, tetapi itu adalah kenikmatan yang luar biasa, waktu yang ada adalah milik dakwah. Walau aku tahu tujuan awalku ke kota ini adalah kuliah namun aku tak mau ketinggalan bergaul dikalangan ahli langit. kuliah tetap didahulukan, dan dakwah diutamakan dan aku akan terus berprestasi. Allah adalah tujuanku, Nabi Muhammad SAW adalah teladanku, Al-Qur;an dan Hadist adalah pedomanku.
Berbekal uang Rp 250.000 aku berangkat menuju kota untuk kuliah, disaat kedua orang tuaku tak memiliki uang sepeserpun, namun aku yakin aku pasti bisa. Ibu yang begitu mendukungku mencarikan ku pinjaman ke tentangga, dan Alhamdulillah Allah menunjukan jalan. Sungguh Allah adalah Penolongku.
Aku adalah seorang akhwat dari pelosok daerah kecil dari Luwu, sebuah kabupaten yang terletak di wilayah palopo  provinsi Sulawesi selatan, yang berjuang di daerah orang untuk meraih cita-cita, namaku adalah Annisa Jannaty Firdaus, biasa di paggil Jannah. Aku sudah dua tahun menempuh pendidikan di kota tercinta ini, kota yang memberikan banyak ilmu kepadaku. Kota yang memberikan banyak hal yang menyenangkan.  Ini luar biasa, Allah memberikan sesuatu yang tak terduga bagiku, aku berjuang bersama seorang teman yang tak berbeda denganku yakni Zafira Az-zahra, dan ia senang di panggil Zaf. Aku tinggal di kota Merah kota Makassar. Banyak orang bilang bahwa kota Makassar adalah kota yang banyak menyimpan kekerasan dan hal keras lainnya, namun menurutku sebagai seorang pendatang menganggap bahwa hal itu tidak benar sama sekali, karena terbukti selama aku tinggal di Makassar aku disambut oleh manusia-manusia yang luar biasa, orang-orang yang memiliki prestasi dan orang-orang yang ramah lagi lembut. Tidak ada yang jelek dari sesuatu hal jika kita memang menjelek-jelekan sesuatu yang tidak pernah kita lihat secara langsung, seperti halnya kota ini, sebagian besar orang yang mengatakan kejelekan Makassar karena mereka hanya dibius oleh sebua media yang selalu mengekspos hal negative dari kota ini.  Seperti halnya Indonesia dimata dunia, yang terkenal dengan adanya kericuhan dimana-mana, korupsi, pencurian, dan sebagainya, hal ini desebabkan karena media hanya mengabarkan hal yang seperti itu saja. Dan sangat jarang menjunjung kebaikan dari negeri ini.
Aku sempat berfikir bagaimana cara mengajak orang-orang yang ada di kota ini agar mereka bisa beribadah kepada Allah SWT, dan akhirnya aku mendapatkan jalan untuk itu, berbekal ilmu yang cukup aku memulainya. Berawal dari membimbing generasi muda dan selanjutnya orang tuanya. Surau pelangi adalah jalan pertamaku, sebuah Taman Baca Qur’an yang  aku kelolah bersama teman-teman, kini dalam proses. Aku terus menerawang jauh memajukan sebuah cita-cita yang muliah.
Renungan itu tiba-tiba hanyut bersama sentuhan lembut dari ukhty Zafira, beliau menyapaku,
 “ ya ukhty, anty lagi bermuhasabah ya? bagi juga dong”.
“ukh, ana sunggu beruntung bisa mengenal anty, mengenal ikhwah yang ada disini, mungkin inilah jalannya, ana sangat  bersyukur kepada Allah, telah mengirimkan anty dan yang lain kepadaku” aku sambil tersenyum membalas.
“jalan dakwah ini memang sunggu asyik yah?, tanggung jawab yang diberikan kepada kita bukanlah sebuah beban tapi sebuah amanah dan kenikmatan tersendiri yang di karuniakan Allah SWT kepada kita”aku menjelaskan.
“benar ukh, padahal awal ana menginjakan kaki di kota  ini ana belum memahami sedikit pun apa itu dakwah, apa itu amanah, bahkan pemahaman tentang islam secara mendalampun aku belum, namun sekarang Subhanallah sekali, Allah memberikan kesempatan menikmati indahnya iman itu. Sayangnya ana tarbiyah baru 2 tahun”, Tangkas Ukh Zaf.
“pengetahuan itu tidak dilihat seberapa lama dia menuntut ilmu,akan tetapi seberapa besar niat dan keseriusan seseorang dalam menuntut ilmu. 2 tahun lebih berarti dari pada 3 tahun tapi tidak memiliki keseriusan dalam menuntut ilmu. Kemauanlah yang membedakan kita terhadap mereka 3 tahun tapi santai dan enjoi.”
“ana jadi ingat kata-kata dari salah satu ustad dalam blognya ‘Saya merasa bukan siapa-siapa, dan hanya seseorang yang mendapatkan banyak kemuliaan di jalan ini. Mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman, mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata hati dan mata jiwa. Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah. Maka, merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu menikmati’. Hmm… semangat ini semakin bangkit aja! Anti sekarang punya amanah dimana aja?”, lanjutku.
“saat ini ana lagi diamanahkan posisi penting di sebuah organisasi dakwah di universitas saat ini dan program tahunan kampus, yakni jadi bendahara. Awalnya ana kaget kenapa bisa ana yang ditempatkan diposisi itu, padahal berharap bisa masuk di kemuslimahannya, hmm,,, inilah amanah, ana harus terima dengan ikhlas dan bekerja dengan hati nurani, ana bersyukur masih bisa memegang sebuah amanah, Kalau anty sendiri sekarang lagi aktiv dimana?” jawab Zaf.
“Subhanallah ukh, Selamat ya,,, anty ternyata amana besar. Tapi ingat ya ukhty ‘ku’ sayang bahwa itu bukan sebuah penghargaan bagi anty melainkan sebuah amanah yang harus dinikmati.mari kita berjuang di jalan dakwah ini bersama-sama, saling menguatkan saat satu lagi lemah, saling mengingatkan saat yang satu lagi lalai, semoga kita termasuk orang-orang yang amanah, amin. Saat ini ana di amanahkan jadi Koordinator Tim Danus di LDK   dan mas’ul  di salah satu LDF,, menurut ana ini amanah yang terberat, ini adalah sebuah ujian bagi ana, apakah ana bisa taat atu tidak, semoga dimudahkan,. Amiin…” aku menjelaskan.
Itulah sedikit pembicaraan aku dan Zafira ketika kami sedang duduk bersama.
Tidak ada kesyukuran selain bersyukur kepada Allah SWT, kesyukuran yang luar biasa, karena Kami ditunjuki jalan ini, jalan yang lurus dan  depertemukan oramg-orang yang memiliki inspirasi yang besar.
Berawal dari sebuah amanah, sebuah tanggung jawab akan terlaksana dengan semangat yang luar biasa. Jalan ini amat panjang tak kenal lelah, dari terbitnya matahari hingga terbenam lagi itu hanya sebuah kedipan  mata saja, sungguh nikmat  memang jika kita serius dalam jalan ini.
****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar