Kenangan yang indah ketika financial tak lagi mendukung,ketika tak ada lagi teman yang perduli, namun Allah selalu bersamaku kapanpun, dimana pun aku berada. Aku adalah orang yang paling bahagia, tak hanya itu aku akan mengenang hari ini dimanapun aku berada, aku merasa aku adalah orang yang paling disayangi Allah Swt. Aku bangga telah merasakan iman ini. Aku terjebak kedalam lembah kebaikan, yang akan menyelamatkan aku di dunia maupun di akhirat, awal aku terlibat dalam jalan ini adalah saat aku pertama kali memasuki Universitas Hasanuddin, aku mengikuti aroma-aroma ketawadhuan disana. Allah sudah mengaturnya sedemikian rupa sehingga aku benar-benar terjebak.
Sebuah
cita-cita dan tekad yang kuat dari lubuk hati untuk melanjutkan kuliah,
ternyata membawaku kepada semua ini,
walau dulu aku adalah tergolong orang yang tak mampu jika harus melanjutkan ke sekolah
di kota , dikampus terbesar di Indonesia Timur, hal itu mungkin tak pernah
terbayang dibenak kedua orang tuaku. Namun Aku selalu berusaha berprasangka baik kepada
Allah, bahwa segala sesuatu itu akan ada jalannya.
Jalan
itu adalah jalan dakwah. Jalan yang menuntunku ke jalan syurga. Walau di dunia
tidak ada orang yang mengenali siapa aku ini, tapi aku hanya ingin terkenal
dikalangan penghuni langit. Aku menginginkan hal itu, karena disanalah tempatku
menetap suatu saat. Sebelum aku kembali kesana aku ingin terkenal terlebih
duluh. Disinilah jalannya, menyelamatkan agama Allah, maka Allah akan menolong
kita di dunia. kita lanjutkan perjuangan Rasulullah dalam menyiarkan agama
islam, kalau dulu beliau menyeruh agama Islam kepada kaum jahiliyah yang belum
mengenal agama ini, sekarang kita menyeruh agama islam kepada orang-orang yang
telah mengakui dirinya islam namun belum mengenali agamanya sendiri. Sungguh
miris kalau kita tengok diluar sana,
kita sudah tak dapat membedakan antara wanita muslim dengan wanita non
muslim. Sunggu benar-benar mereka belum mengenali agamanya. Padahal dalam
alqur’an telah dijelaskan dal QS; Al-Ahzab ayat 56 Allah berfirman “wahai Nabi
seruhlah istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan yang beriman,
melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya(semaa mereka keluar), cara
yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang
baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu dan (ingatlah) Allah maha
pengampun lagi maha mengasihani”. Disinilah
peranku saat ini, bagaimana aku berusaha untuk mengajak mereka pada jalan yang
benar.
Sebuah
tujuan yang mulia, yang dapat membuat semua mendapatkan syafaatnya, hal itulah
yang mendorongku terus mengikuti jalan dakwah ini. Tenaga yang terkuras
bukanlah kelelahan bagiku, tetapi itu adalah kenikmatan yang luar biasa, waktu
yang ada adalah milik dakwah. Walau aku tahu tujuan awalku ke kota ini adalah
kuliah namun aku tak mau ketinggalan bergaul dikalangan ahli langit. kuliah
tetap didahulukan, dan dakwah diutamakan dan aku akan terus berprestasi. Allah
adalah tujuanku, Nabi Muhammad SAW adalah teladanku, Al-Qur;an dan Hadist
adalah pedomanku.
Berbekal
uang Rp 250.000 aku berangkat menuju kota untuk kuliah, disaat kedua orang
tuaku tak memiliki uang sepeserpun, namun aku yakin aku pasti bisa. Ibu yang
begitu mendukungku mencarikan ku pinjaman ke tentangga, dan Alhamdulillah Allah
menunjukan jalan. Sungguh Allah adalah Penolongku.
Aku
adalah seorang akhwat dari pelosok daerah kecil dari Luwu, sebuah kabupaten
yang terletak di wilayah palopo provinsi
Sulawesi selatan, yang berjuang di daerah orang untuk meraih cita-cita, namaku
adalah Annisa Jannaty Firdaus, biasa di paggil Jannah. Aku sudah dua tahun
menempuh pendidikan di kota tercinta ini, kota yang memberikan banyak ilmu
kepadaku. Kota yang memberikan banyak hal yang menyenangkan. Ini luar biasa, Allah memberikan sesuatu yang
tak terduga bagiku, aku berjuang bersama seorang teman yang tak berbeda
denganku yakni Zafira Az-zahra, dan ia senang di panggil Zaf. Aku tinggal di
kota Merah kota Makassar. Banyak orang bilang bahwa kota Makassar adalah kota
yang banyak menyimpan kekerasan dan hal keras lainnya, namun menurutku sebagai
seorang pendatang menganggap bahwa hal itu tidak benar sama sekali, karena
terbukti selama aku tinggal di Makassar aku disambut oleh manusia-manusia yang
luar biasa, orang-orang yang memiliki prestasi dan orang-orang yang ramah lagi
lembut. Tidak ada yang jelek dari sesuatu hal jika kita memang menjelek-jelekan
sesuatu yang tidak pernah kita lihat secara langsung, seperti halnya kota ini,
sebagian besar orang yang mengatakan kejelekan Makassar karena mereka hanya
dibius oleh sebua media yang selalu mengekspos hal negative dari kota ini. Seperti halnya Indonesia dimata dunia, yang
terkenal dengan adanya kericuhan dimana-mana, korupsi, pencurian, dan
sebagainya, hal ini desebabkan karena media hanya mengabarkan hal yang seperti
itu saja. Dan sangat jarang menjunjung kebaikan dari negeri ini.
Aku
sempat berfikir bagaimana cara mengajak orang-orang yang ada di kota ini agar
mereka bisa beribadah kepada Allah SWT, dan akhirnya aku mendapatkan jalan
untuk itu, berbekal ilmu yang cukup aku memulainya. Berawal dari membimbing
generasi muda dan selanjutnya orang tuanya. Surau pelangi adalah jalan
pertamaku, sebuah Taman Baca Qur’an yang aku kelolah bersama teman-teman, kini dalam proses.
Aku terus menerawang jauh memajukan sebuah cita-cita yang muliah.
Renungan
itu tiba-tiba hanyut bersama sentuhan lembut dari ukhty Zafira, beliau
menyapaku,
“ ya ukhty, anty lagi bermuhasabah ya? bagi
juga dong”.
“ukh,
ana sunggu beruntung bisa mengenal anty, mengenal ikhwah yang ada disini,
mungkin inilah jalannya, ana sangat
bersyukur kepada Allah, telah mengirimkan anty dan yang lain kepadaku”
aku sambil tersenyum membalas.
“jalan
dakwah ini memang sunggu asyik yah?, tanggung jawab yang diberikan kepada kita
bukanlah sebuah beban tapi sebuah amanah dan kenikmatan tersendiri yang di
karuniakan Allah SWT kepada kita”aku menjelaskan.
“benar
ukh, padahal awal ana menginjakan kaki di kota
ini ana belum memahami sedikit pun apa itu dakwah, apa itu amanah,
bahkan pemahaman tentang islam secara mendalampun aku belum, namun sekarang
Subhanallah sekali, Allah memberikan kesempatan menikmati indahnya iman itu.
Sayangnya ana tarbiyah baru 2 tahun”, Tangkas Ukh Zaf.
“pengetahuan
itu tidak dilihat seberapa lama dia menuntut ilmu,akan tetapi seberapa besar
niat dan keseriusan seseorang dalam menuntut ilmu. 2 tahun lebih berarti dari
pada 3 tahun tapi tidak memiliki keseriusan dalam menuntut ilmu. Kemauanlah
yang membedakan kita terhadap mereka 3 tahun tapi santai dan enjoi.”
“ana
jadi ingat kata-kata dari salah satu ustad dalam blognya ‘Saya merasa bukan siapa-siapa, dan
hanya seseorang yang mendapatkan banyak kemuliaan di jalan ini. Mendapatkan
banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman,
mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata
hati dan mata jiwa. Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah.
Maka, merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu
menikmati’. Hmm… semangat ini semakin bangkit aja! Anti sekarang punya amanah
dimana aja?”, lanjutku.
“saat ini ana lagi diamanahkan
posisi penting di sebuah organisasi dakwah di universitas saat ini dan program
tahunan kampus, yakni jadi bendahara. Awalnya ana kaget kenapa bisa ana yang
ditempatkan diposisi itu, padahal berharap bisa masuk di kemuslimahannya,
hmm,,, inilah amanah, ana harus terima dengan ikhlas dan bekerja dengan hati
nurani, ana bersyukur masih bisa memegang sebuah amanah, Kalau anty sendiri
sekarang lagi aktiv dimana?” jawab Zaf.
“Subhanallah ukh, Selamat ya,,, anty
ternyata amana besar. Tapi ingat ya ukhty
‘ku’ sayang bahwa itu bukan sebuah penghargaan bagi anty melainkan sebuah
amanah yang harus dinikmati.mari kita berjuang di jalan dakwah ini
bersama-sama, saling menguatkan saat satu lagi lemah, saling mengingatkan saat
yang satu lagi lalai, semoga kita termasuk orang-orang yang amanah, amin. Saat
ini ana di amanahkan jadi Koordinator Tim Danus di LDK dan
mas’ul di salah satu LDF,, menurut ana
ini amanah yang terberat, ini adalah sebuah ujian bagi ana, apakah ana bisa
taat atu tidak, semoga dimudahkan,. Amiin…” aku menjelaskan.
Itulah sedikit pembicaraan aku dan
Zafira ketika kami sedang duduk bersama.
Tidak
ada kesyukuran selain bersyukur kepada Allah SWT, kesyukuran yang luar biasa,
karena Kami ditunjuki jalan ini, jalan yang lurus dan depertemukan oramg-orang yang memiliki
inspirasi yang besar.
Berawal
dari sebuah amanah, sebuah tanggung jawab akan terlaksana dengan semangat yang
luar biasa. Jalan ini amat panjang tak kenal lelah, dari terbitnya matahari
hingga terbenam lagi itu hanya sebuah kedipan mata saja, sungguh nikmat memang jika kita serius dalam jalan ini.
****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar