Rabu, 19 September 2012

SIAPAKAH DIA?



Dia yang telah melahirkanku, dia yang telah merawat dan mendidikku. Dia adalah IBU. IBU, adalah hal yang  paling berharga dalam hidupku, sebut saja aku adalah Raisa gadis cilik dari kampong tetangga, dia tak pernah lelah dalam  berjuang mempertahankan kehidupanku, ibu adalah inspirasi, beliau yang terus mendukung dalam kehidupan. Dulu  sewaktu aku masih kecil ibu selalu mencium kening ku. Kecupan itu terus terasa hingga kini. Perjuangan ibu tak pernah berhenti. Ibu adalah pejuang sejati, kedua orang tua kita memang sudah bertahun-tahun tak memiliki ladang sawah sendiri, namun kami tak pernah kehabisan beras, hal ini disebabkan ibu yang tak pernah berhenti mencari beras. Ibu  tak pernah malu atas apa yang ia kerjakan asal pekerjaan itu halal. Aku yakin tidak akan ada yang percaya jika kuceritakan kisa ibuku tercinta.
Ibu adalah sosok yang sangat kuat dan tak pernah putus asa, memiliki kemauan yang keras, walau sekarang usianya hampir mancapai 55 tahun,namun kekuatannya untuk mencari sesuap nasi tak pernah lemah. Semangat yang dimiliki ibu tak pernah pudar oleh waktu, setiap detik semangatnya selalu terjaga. Aku sangat bersyukur kepada Allah yang telah memilih ibu menjadi orang tuaku. Ibu ,memiliki 5 orang putra dan 3 orang putri dan salah satu putrinya adalah aku.
Kesyukuran ibu selalu ada disetiap langkahnya, rezeki dari Allah selalu saja ada kerena ibu terus bergerak dan mencari itu. Pekerjaan itu sangatlah melelahkan karena dari pagi buta hingga petang, ibu berpanas-panasan dengan tubuh yang tua renta. Ayah pernah melarang ibu untuk jangan melanjutkan pekerjaannya, namun ibu menolaknya dengan alasan  keluarga akan dapat beras dari mana kalau tidak menjadi petani padi. Aku sedih mendengarnya karena demi kami anaknya ibu rela berpanas-panasan dengan tubuh yang tua itu. Setiap kali aku liburan aku pulang kampung, saat aku dirumah hampir aku tidak pernah ketemu sama ibu di siang hari, karena aktivitas ibu diladang dari pagi hingga petang. Saat aku kembali kekota ibu selalu membawakan beras untuk bekalku di kota. Beras hasil kerja paya ibulah yang aku nikmati selama ini.
Teringat saat nasehat berayun-ayun dibibirnya namun aku tak pernah peduli dengan nasehat itu. sungguh aku sangat berdosa saat itu, maafkan aku ibu yang membuatmu  lelah dan pusing dengan tingkahku. Kini aku jauh, tak lagi dapat mendengar nasehatmu secara langsung, ingin rasanya menangis saat mengingatmu ibu.
Aku mengharapkan doa disetiap sujud-sujudmu ibu. suatu saat nanti akan kubawa ibu berkeliling dunia, yang berawal dari mekka tanah suci, akan ku tunjukan dunia kepada ibu. Saat ini aku sangat jauh dari ibu, aku sangat merindukan wajahnya yang meneduhkan, aku rindu dengan nasehat-nasehatnya, aku rindu segalanya dari ibu.
Ibuku adalah orang yang  paling aku cintai, saat ini aku belum pernah memberinya sesuatu yang membanggakan, aku sangat ingin membuatnya tersenyum dan santai di rumah, tanpa harus lelah bekerja siang malam. Anak macam apa aku ini, yang  membiarkan ibu yang sudah tua terus bekerja keras untuk sesuap  nasi.
Jadi teringat disaat aku masih sekolah dasar, tak ada beras yang dapat di masak ibu untuk sarapan sebelum berangkat sekolah, namun di pekarangan belakang rumah ada pohon pisang yang berbuah, ibu segera mengambil buah pisang tersebut untuk direbus untuk sarapan. Saat sekolah dasar aku  dan adik adik sangat jarang mempunyai uang saku untuk belanja di sekolah, saat itu jika aku ingin belanja , aku harus menjual es terlebih dahulu untuk memperoleh uang Rp 500 dan menyapu halaman tetangga. Sejak kecil aku memang dibiasakan untuk tidak manja.
Dulu aku sangat membenci omelan ibu yang salalu membengkakkan telinga, aku selalu menutup telinga ketika ibu menasehatiku, sunggu aku adalah orang yang bandel saat itu. Tak terbayang kenakalanku saat itu, namun ibu terus bersabar dalam membinaku. Kesabarn itulah yang kini ingin ku ikuti dari ibu.
Ketulusan hatinya dalam membimbing anak membuat aku bangga kepada ibu. Ibu tak pernah merasa lelah ataupun mengeluh setiap apa yang dikerjakan. Sampai dalam kondisi sakitpun ibu tak pernah merintih kesakitan. setiap waktu dan setiap detik ibu selalu berdoa kepada sang Khaliq untuk keberhasilan anaknya.
Ibu selalu mengerti apa yang sedang dipikirkan anaknya, teringat ketika dulu aku menginginkan makan kapurung (makanan khas masyarakat palopo dan sekitarnya), tanpa aku memberi tahu ibu tiba-tiba keesokan harinya ibu membuat kapurung itu. Bahagia rasanya, karena ibu masih ada. 

ibu.....
engkau bagai bidadari
yang selalu mengisi hari-hariku..
engkau pahlawan bagiku
disaat kesulitan itu tiba

ibu...
engkau bagaikan cahaya 
disaat datangnya kegelapan...
engkau bagaikan madu yang membawa berkah bagiku....
kerinduan ini sungguh dalam...
aku mengharapkan doamu disetiap shalat malammu...
ibu
aku mencintaimu...



1 komentar: